HUMANIORA – (31/10/2025) Suasana ruang teater Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pecah oleh sorak sorai dan tepuk tangan meriah saat para peserta International Youth Enhancing Study (I-YES) 2025 menampilkan performa memukau dalam malam penutupan acara, Jumat (31/10). Panggung yang biasanya menjadi ruang akademik berubah menjadi arena perayaan budaya dan kreativitas lintas bangsa.
Read too:
- Semarak Penutupan I-YES 2025: Panggung Persahabatan Global di Humaniora
- DWP UIN Malang Datangi Humaniora, Lakukan Sharing dan Kolaborasi Kegiatan
Pertunjukan dibuka dengan kolaborasi energik antara Oumar Bagayoko dan Mohammad Mufti Akmal yang sukses mengguncang panggung lewat lagu “Syantik” yang dipopulerkan oleh Siti Badriah. Suara mereka yang kompak, berpadu dengan semangat penonton yang ikut berdendang, membuat suasana ruang teater menjadi riuh dan penuh tawa.
Tidak berhenti di situ, peserta asal Tiongkok, Ma Jun, menampilkan pembacaan puisi dalam bahasa Mandarin yang lembut namun penuh ekspresi. Melalui performanya, Ma Jun menunjukkan bahwa peserta I-YES tidak hanya datang untuk belajar budaya Indonesia, tetapi juga membagikan kekayaan bahasa dan sastra dari negaranya kepada dunia.

Suasana menjadi semakin syahdu ketika Faroq Ali Ali Hussein Qazwan dari Yaman berkolaborasi dengan Nazira Rashiqa Zahra dari Indonesia dalam pembacaan puisi bilingual berbahasa Indonesia. Keduanya berhasil memadukan diksi puitis dan ekspresi mendalam yang membuat penonton terhanyut dalam keindahan kata.
Sementara itu, kejutan datang dari duet Heba Salah Ahmed Soliman (Mesir) dan Maulida Az-Zahra (Indonesia) yang membawakan lagu Arab populer ‘Ala Bali milik Sherine. Vokal keduanya yang harmonis menghadirkan nuansa Timur Tengah yang hangat, membuat suasana teater seolah berubah menjadi panggung musik internasional.
Tidak kalah manis, duet lintas negara kembali hadir lewat Habib Anas Ngeonchareon dari Thailand dan Nailah Zahroh Ilmiyah dari Indonesia yang membawakan lagu “Menyimpan Rasa”. Suara lembut dan penghayatan emosional mereka sukses mencuri perhatian dan mendapat tepuk tangan panjang dari penonton.
Menambah semarak suasana, Rizwan Khan dari India menutup rangkaian penampilan dengan lagu Bollywood penuh warna. Irama khas India yang rancak membuat para peserta ikut bergoyang, menandai malam penutupan dengan keceriaan yang tak terlupakan.
Penutupan I-YES 2025 bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan perayaan atas persahabatan dan pertukaran budaya antarbangsa. Melalui lagu, puisi, dan tari, para peserta menunjukkan bahwa bahasa seni adalah jembatan universal yang menyatukan perbedaan.
Dengan panggung yang berisi tawa, tepuk tangan, dan semangat persaudaraan, I-YES 2025 resmi berakhir dengan satu pesan kuat — diversity is harmony, dan Humaniora menjadi rumah di mana dunia bertemu dalam irama kebersamaan. (unr)





