MIU Login

Kata Siapa Belajar Bahasa Arab Itu Membosankan?

HUMANIORA – (18/12/2025) Stigma bahwa pembelajaran Bahasa Arab itu sulit dan membosankan perlu ditinjau ulang. Pembelajaran bahasa asing justru menuntut strategi yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakter peserta didik agar proses belajar berjalan efektif dan bermakna. Berangkat dari semangat tersebut, tim Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memberikan pendampingan kepada para pengajar Bahasa Arab dengan menghadirkan alternatif strategi pembelajaran yang interaktif dan kolaboratif.

Read too:

Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan di Yayasan Pondok Pesantren Al Beer, Sangarejo Karangjati, Pandaan, Pasuruan, pada Selasa, 16 Desember 2025. Dalam sesi tersebut, Arief Rahman Hakim, M.Pd., menegaskan bahwa pembelajaran berbasis permainan memiliki peran penting dalam merangsang perkembangan peserta didik secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif, emosional, maupun sosial.

Menurutnya, pendekatan bermain bukan sekadar hiburan, tetapi sarana edukatif yang mampu membangun imajinasi, meningkatkan partisipasi aktif, serta menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik dalam menggunakan Bahasa Arab. “Melalui permainan, anak-anak belajar tanpa merasa tertekan. Mereka terlibat secara aktif dan alami dalam proses pembelajaran,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Arief Rahman Hakim, M.Pd. bersama Dr. Muntaqim Al-Anshori, M.Pd., menekankan pentingnya penerapan permainan Bahasa Arab yang bersifat kolaboratif. Strategi ini dinilai efektif dalam melatih keterampilan komunikasi sekaligus menumbuhkan kemampuan bekerja sama antarpeserta didik dalam konteks pembelajaran bahasa.

“Setiap anak pada dasarnya menyukai permainan. Dari aktivitas bermain, akan muncul fantasi dan kreativitas yang mendorong mereka lebih bersemangat untuk belajar. Inilah yang membuat pembelajaran Bahasa Arab menjadi hidup dan menyenangkan,” tegas Arief.

Melalui kegiatan pendampingan ini, Fakultas Humaniora menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Arab yang inovatif, kontekstual, dan ramah peserta didik, khususnya di lingkungan pesantren. Upaya ini diharapkan mampu melahirkan generasi pembelajar Bahasa Arab yang tidak hanya cakap secara linguistik, tetapi juga percaya diri dan kolaboratif. [unr]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait