MIU Login

Kampus Atas Awan Jadi Laboratorium Seni, Peserta I-YES Buat Batik Eco Print

HUMANIORA – (29/10/2025) Keceriaan dan kreativitas mewarnai rangkaian International Youth Enhancing Study (I-YES) 2025 pada sesi Batik Class & Batik Workshop yang berlangsung di depan Gedung Fakultas Humaniora Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang akrab dijuluki Kampus Atas Awan karena posisinya yang berada di dataran tinggi.

Read too:

Dalam sesi ini, peserta internasional berkesempatan mengenal secara langsung seni membatik bersama Fikrah Ryanda Saputra, perwakilan dari produk batik lokal Hamparan Rintik. Dengan penuh semangat, Fikrah memperkenalkan batik sebagai karya budaya penuh nilai, yang lahir dari kreativitas para pengrajin di Malang.

“Nama Hamparan Rintik terinspirasi dari kumpulan ide-ide kreatif yang dihamparkan menjadi satu karya indah,” jelasnya.

Melalui paparan visual dan contoh karya asli Hamparan Rintik, peserta diajak memahami proses pembuatan batik, teknik yang digunakan, dan filosofi motif yang terkandung di dalamnya.

Fikrah memperkenalkan beragam teknik, seperti jumputan, mencanting, printing, serta pengenalan Eco Print
Lebih lanjut, Fikrah juga menegaskan bahwa teknik eco print termasuk teknik batik sederhana, karena tidak menggunakan malam panas sebagai ciri utama membatik.

Ia juga memperlihatkan ragam motif batik Indonesia yang terkenal, seperti Tuban, Manggur (Probolinggo), Kawung, hingga Parang yang identik dengan Jawa Tengah.

Usai sesi teori, suasana semakin seru saat peserta diajak membatik secara langsung, dengan Menggunakan dua media yang digunakan: kaos dengan menerapkan teknik jumputan dan kain putih dengan teknik mencanting.

Dengan media ini, para peserta diajak untuk bereksperimen dengan berbagai motif Menara UIN Malang, sementara yang lain ada yang memilih untuk bereksperimen dengan desain kontemporer sesuai kreativitas masing-masing.

Senandung percakapan lintas bahasa terdengar sepanjang proses, menciptakan suasana belajar seni yang hangat dan penuh keceriaan.

Salah satu peserta I-YES asal Yaman, Faruq, mengungkapkan pengalamannya dengan penuh kegembiraan.
“Saya sangat senang ikut membatik di sini. Saya sebelumnya pernah ikut membatik di Klaten dan Jogja, dan di sini saya belajar teknik baru lagi,” ujarnya antusias.

Batik Class & Workshop ini menjadi bukti nyata bahwa seni mampu menyatukan perbedaan budaya. Para peserta tidak hanya mengenal warisan budaya Indonesia, tetapi juga terlibat langsung dalam proses berkarya.
Kampus Atas Awan pun benar-benar menjelma menjadi laboratorium seni dunia, tempat ide-ide lintas negara berjumpa dan lahir dalam selembar kain penuh warna makna. (thb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait