MIU Login

Humaniora Undang Pakar dari India, Kupas Jejak Kolonial dalam Perspektif Global

HUMANIORA – (13/11/2025) Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar forum akademik internasional bertajuk International Scholar Engagement (ISE) dengan tema “From Europe to Asia: How Colonial Histories Shape the Cultures of India and Indonesia”, Kamis (13/11). Kegiatan ini menghadirkan Md Rizwan Khan, M.A., dari Indira Gandhi National Open University, New Delhi, India.

Read too:

Forum ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris yang tertarik mengeksplorasi pengaruh kolonialisme Eropa terhadap pembentukan budaya di India dan Indonesia.

Dalam diskusi yang dipandu Finda Mufihatun Najihah, Md Rizwan Khan menjelaskan bahwa kolonialisme bukan hanya tentang eksploitasi ekonomi, tetapi juga tentang perubahan sosial dan budaya yang meninggalkan jejak mendalam hingga masa kini.

Rizwan juga menekankan bahwa perjalanan kolonial Inggris di India dan Belanda di Indonesia — dua kekuatan besar yang datang dengan kepentingan dagang namun berakhir dengan dominasi politik dan budaya.

“Inggris datang ke India untuk berdagang kapas, sementara Belanda datang ke Indonesia untuk rempah-rempah. Namun keduanya membawa lebih dari sekadar komoditas melainkan juga membawa bahasa, sistem pendidikan, hukum, bahkan gaya hidup baru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rizwan menyoroti pengaruh bahasa kolonial dalam membentuk identitas bangsa. Di India, bahasa Inggris menjadi bahasa resmi yang membuka akses pada pendidikan dan pemerintahan, sedangkan di Indonesia, bahasa Belanda meninggalkan jejak dalam kosakata sehari-hari seperti kantor (kantoor), sepatu (schoen), dan rokok (roken).

Tak hanya menyorot aspek linguistik, Rizwan juga mengulas transformasi sosial akibat pembangunan infrastruktur seperti jalur kereta api dan munculnya kultur minum teh dan kopi, yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di kedua negara.

“Budaya minum teh di India dan budaya kopi di Indonesia adalah dua warisan kolonial yang diadaptasi menjadi simbol kebersamaan dan ekonomi lokal,” tuturnya.

Dalam bagian akhir pemaparannya, Rizwan membandingkan perjalanan kemerdekaan India dan Indonesia. Keduanya sama-sama dipimpin oleh tokoh karismatik — Mahatma Gandhi dengan perjuangan damai (ahimsa) dan Sukarno-Hatta dengan perpaduan diplomasi serta perlawanan bersenjata.

“Meski berbeda jalan, India dan Indonesia memiliki satu semangat yang sama: MERDEKA,” tegas Rizwan.

Lebih dari sekadar mengenang masa lalu, ia menekankan pentingnya memahami sejarah kolonial sebagai fondasi untuk memperkuat hubungan lintas budaya antara dua negara di masa depan. “Sejarah kolonial menyatukan kita dalam pengalaman masa lalu, tetapi masa depan independenlah yang akan benar-benar mempersatukan kita,” pungkasnya. (unr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait