HUMANIORA – (18/9/2025) Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cermin budaya dan identitas kolektif suatu masyarakat. Hal ini disampaikan oleh pakar linguistik internasional, Dr. Mark W. Post dari The University of Sydney, dalam kuliah umum bertajuk “Ethnolinguistics and Its Significance: From the Himalayas to Indonesia” yang digelar Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (18/9/2025).
Read too:
- Buka International Scholar Engagement, WD II Humaniora Tekankan Urgensi Kajian Ethnolinguistics
- Mahasiswa Humaniora Ukir Prestasi di Ajang KTI 2025
Dalam paparannya, Dr. Post menekankan bahwa etnolinguistik berperan penting dalam mengungkap keterkaitan antara bahasa dan kebudayaan. Menurutnya, perbedaan fonologi, leksikon, tata bahasa, hingga pola wacana dari setiap bahasa di dunia sesungguhnya merefleksikan cara pandang, pengetahuan, serta nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya.

“Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Setiap struktur bahasa menyimpan jejak cara berpikir, sistem pengetahuan, dan identitas kelompok sosial yang menggunakannya,” ujar Dr. Post.
Lebih jauh, ia menyinggung pandangan para tokoh linguistik terkemuka seperti Sapir, Trudgill, hingga Evans-Levinson yang menegaskan bahwa deskripsi linguistik dan etnografi yang mendalam atas seluruh bahasa di dunia sangatlah penting. Tanpa dokumentasi tersebut, manusia tidak akan pernah sepenuhnya memahami potensi bahasa sebagai salah satu kemampuan paling kompleks yang dimiliki umat manusia.
Kuliah internasional ini mendapat perhatian khusus dari mahasiswa dan dosen Fakultas Humaniora, khususnya dari program studi Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris. Mereka antusias mengikuti sesi diskusi yang membuka perspektif baru tentang bagaimana bahasa dapat menjadi pintu masuk untuk memahami realitas sosial-budaya yang lebih luas.
Melalui forum akademik semacam ini, Fakultas Humaniora UIN Malang berharap dapat memperkuat tradisi riset interdisipliner dan mendorong mahasiswa untuk melihat bahasa bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga kunci memahami kebudayaan dan identitas manusia di tengah dinamika global. (al)





