MIU Login

Dosen Humaniora Tegaskan Pentingnya Literasi Kekuasaan dan Keamanan Digital dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender

HUMANIORA – (10/10/2025) Dalam dunia yang semakin digital, ancaman kekerasan terhadap perempuan tak lagi hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang maya. Hal itu menjadi sorotan tajam Dr. Istiadah, M.A., Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam Forum Kajian Gender yang digelar Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (1/10/2025).

Read too:

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Istiadah menguraikan konsep-konsep kunci seperti sex and gender, power, violence, dan human rights sebagai fondasi untuk memahami akar dari kekerasan berbasis gender (KBG). Menurutnya, KBG bukan sekadar perilaku individual, melainkan persoalan struktural yang berakar pada ketimpangan kuasa dan diskriminasi terhadap perempuan.

“Kekuasaan selalu berkaitan dengan pilihan. Siapa yang memiliki lebih banyak kekuasaan, akan memiliki lebih banyak pilihan dalam hidupnya. Sebaliknya, mereka yang lemah secara sosial, ekonomi, atau politik, seringkali kehilangan pilihan bahkan untuk melindungi dirinya sendiri,” tegasnya di hadapan peserta forum.

Dalam pemaparannya, yang sekaligus Kepala PSGA UIN Maulana Ibrahim Malang menyoroti bahwa bentuk kekuasaan tidak selalu bersifat fisik. Kekuasaan dapat hadir dalam wujud sosial, ekonomi, politik, bahkan emosional.

Ia memberi contoh, bagaimana dalam banyak kasus rumah tangga, kontrol atas keuangan atau akses terhadap sumber daya menjadi alat untuk menekan dan membungkam perempuan.

“Perempuan yang tidak memiliki kemandirian ekonomi cenderung sulit keluar dari lingkar kekerasan, karena posisinya yang lemah dalam relasi kekuasaan,” ungkapnya.

Selain kekerasan fisik dan psikis, ia juga menyoroti fenomena kekerasan berlapis, di mana korban mengalami berbagai bentuk kekerasan secara bersamaan baik secara fisik, verbal, dan emosional. “Kekerasan selalu berawal dari relasi kuasa yang timpang. Ia bukan sekadar tindakan, melainkan refleksi dari sistem sosial yang tidak adil,” tambahnya.

Forum tersebut juga menyoroti dimensi baru yang kini marak di tengah masyarakat, yakni Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Dr. Istiadah menjelaskan, kekerasan digital dapat muncul dalam bentuk ancaman daring, penyebaran konten intim tanpa izin, pelecehan seksual melalui pesan atau komentar, hingga perundungan di media sosial. “Ruang digital belum sepenuhnya aman bagi perempuan. Banyak korban kehilangan rasa aman dan martabat akibat serangan verbal dan seksual di dunia maya,” ujarnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya literasi keamanan digital (gender digital safety), terutama bagi perempuan dan remaja putri. Kesadaran ini meliputi keterampilan membuat kata sandi yang kuat, tidak menggunakan Wi-Fi publik untuk transaksi penting, hingga menggunakan autentikasi ganda dan jaringan pribadi virtual (VPN).

“Keamanan digital adalah bentuk perlindungan diri. Melatih perempuan agar cakap digital berarti memberi mereka kuasa untuk menjaga identitas dan kehormatan di ruang maya,” jelasnya.

Lebih jauh, Dr. Istiadah menilai bahwa pencegahan kekerasan berbasis gender tidak cukup hanya melalui hukum atau kebijakan, melainkan harus berangkat dari pendidikan kesetaraan dan kemandirian sejak dini. Ia menggarisbawahi pentingnya pendidikan yang mengajarkan nilai tanggung jawab, saling menghormati, dan kontrol diri.

“Anak muda perlu dibekali kemampuan menolak rayuan seksual, mengenali tekanan sosial, serta menyadari bahaya penggunaan alkohol dan narkoba yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap kekerasan,” jelasnya, mengutip prinsip Abstinence and Outreach Understanding Model (AOUM).

Bagi Dr. Istiadah, membangun kesadaran gender berarti menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal — bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan seharusnya didasarkan pada penghargaan, bukan dominasi.

Forum yang dihadiri akademisi, mahasiswa, dan aktivis gender dari berbagai daerah itu menjadi ruang penting bagi refleksi bersama. Materi Dr. Istiadah tidak hanya mengajak peserta memahami realitas kekerasan berbasis gender, tetapi juga menyadari peran dunia pendidikan sebagai agen perubahan sosial. Ia menutup paparannya dengan seruan moral: “Perjuangan melawan kekerasan berbasis gender bukan sekadar isu perempuan. Ini adalah perjuangan kemanusiaan. Dan perguruan tinggi harus menjadi garda depan dalam menumbuhkan kesadaran kritis, empati, dan keadilan bagi semua.”

Kegiatan yang digelar PSGA LP2M UIN Raden Fatah Palembang itu menegaskan kembali pentingnya peran lembaga pendidikan tinggi Islam dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Melalui pendekatan ilmiah dan reflektif seperti yang disampaikan Dr. Istiadah, forum ini menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas: membangun budaya akademik yang berpihak pada kemanusiaan, kesetaraan, dan kebebasan dari segala bentuk kekerasan. (al)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait