HUMANIORA – (7/10/2025) Pembina debat Bahasa Arab El Jidal dari Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, M. Anwar Mas’adi, M.A. hadir memberikan pembekalan khusus kepada Komunitas Alif Debate Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis, 2 Oktober 2025.
Read too:
- Lecturer Mobility Humaniora: Dr. Ahmad Ghozi Bahas Cultural Studies di UIN Bandung
- Aktif dan Berprestasi, Mahasiswa Humaniora Raih Perunggu Unity Competition 2025
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Lecturer Mobility Fakultas Humaniora yang bertujuan memperkuat jejaring akademik sekaligus mendorong pengembangan kompetensi berpikir kritis dan komunikasi ilmiah mahasiswa lintas kampus. Dalam sesi tersebut, M. Anwar Mas’adi berbagi pengalaman membina komunitas debat Bahasa Arab serta strategi membangun budaya intelektual yang produktif di lingkungan mahasiswa.
Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan komunitas debat, metode latihan efektif, manajemen waktu latihan, teknik riset argumen, serta strategi menghadapi kompetisi nasional. “Komunitas debat harus dikelola dengan serius dan konsisten. Kunci keberhasilan ada pada kedisiplinan latihan, riset mendalam, serta kerja sama tim yang solid,” jelas M. Anwar di hadapan para peserta.
Mahasiswa Komunitas Alif Debate menyambut materi dengan antusias. Mereka aktif berdiskusi dan bertanya seputar teknik menghadapi mushabaqah munazharah (lomba debat) yang rutin digelar antaruniversitas Islam di Indonesia. Diskusi semakin dinamis ketika pembina El Jidal memberikan simulasi langsung strategi argumentasi dan teknik membangun narasi logis dalam format debat Bahasa Arab.
Salah satu peserta menyampaikan kesannya bahwa kegiatan ini sangat memotivasi. “Tips yang diberikan sangat bermanfaat, apalagi kami sedang mempersiapkan diri untuk lomba debat Bahasa Arab tingkat nasional. Semoga komunitas kami semakin solid dan berprestasi,” ujarnya penuh semangat.
Kegiatan ditutup dengan pesan inspiratif dari pembina El Jidal agar mahasiswa terus menumbuhkan tradisi berpikir kritis dan berani menyuarakan pendapat dengan etika berbahasa yang baik.
“Debat bukan sekadar adu argumen, tetapi wadah untuk mengasah logika, bahasa, dan kepribadian. Melalui debat, mahasiswa belajar berpikir sistematis, komunikatif, dan bijak dalam berpendapat,” tegas M. Anwar.
Acara berlangsung sukses dengan suasana penuh semangat, reflektif, dan kolaboratif. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi akademik antara dua kampus serta mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, komunikatif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (unr)





