MIU Login

Dekan Humaniora Ajak Dosen Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Mahasiswa dengan “Soft Curriculum”

BATU – (5/8/2025) | Dalam kegiatan bertajuk “Teaching for Tomorrow: Curriculum for Future-Ready Lecturers” yang digelar oleh Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Royal Orchids Garden Hotel Batu, Dekan Fakultas Humaniora, Dr. M. Faisol, memberikan sambutan reflektif mengenai urgensi pengembangan pendekatan baru dalam dunia pendidikan tinggi (5/8).

Di hadapan para dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Humaniora, M. Faisol menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya permasalahan kesehatan mental yang dialami oleh mahasiswa. Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini tidak hanya berasal dari beban akademik, tetapi juga dari dampak besar perkembangan teknologi digital, tekanan sosial, serta ketidakpastian masa depan.

“Mahasiswa sekarang banyak dihadapkan pada permasalahan kesehatan mental akibat tekanan kehidupan modern dan kompleksitas era digital. Maka, kita tidak bisa lagi mengandalkan kurikulum yang normal saja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, M. Faisol menegaskan bahwa kurikulum standar barangkali belum cukup untuk menjawab kebutuhan pendidikan masa kini. Dosen, menurutnya, tidak cukup hanya menguasai materi ajar dan metode pengajaran, tetapi juga harus memiliki kecakapan emosional dan sosial untuk menyelami kondisi psikologis mahasiswa.

“Kita perlu pendekatan yang lebih manusiawi, lebih empatik—yang saya sebut sebagai ‘soft curriculum’—untuk diterapkan dalam praktik mengajar kita di kelas,” jelasnya.

Soft curriculum bukan sekadar metode alternatif, tetapi merupakan strategi penting dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung kesehatan mental dan pertumbuhan holistik mahasiswa. Ini mencakup kesadaran dosen terhadap tantangan psikologis mahasiswa, serta kepekaan dalam membangun interaksi yang suportif dan inklusif.

Dosen Harus Tanggap dan Terus Berkembang
Dr. Faisol mengajak para dosen untuk terus update dan reflektif terhadap perkembangan zaman. Ia mengingatkan bahwa peran dosen tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping kehidupan mahasiswa, yang harus mampu menyapa sisi emosional mereka di tengah tantangan global yang tidak mudah dipahami.

“Sebagai dosen, kita harus punya kepekaan untuk melihat problem ini sebagai tantangan, bukan beban. Kita harus terus mengembangkan diri agar dapat memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa,” tambahnya.

Kegiatan Teaching for Tomorrow ini menjadi langkah strategis Fakultas Humaniora untuk memastikan bahwa kualitas pengajaran tidak hanya ditentukan oleh isi materi, tetapi juga oleh kualitas interaksi dan pemahaman dosen terhadap mahasiswa sebagai manusia seutuhnya.

Dengan semangat ini, Fakultas Humaniora ingin mendorong lahirnya para pendidik masa depan yang tidak hanya andal secara akademik, tetapi juga kuat dalam membangun iklim pembelajaran yang sehat, suportif, dan berdaya. (al)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait