MIU Login

Dari Teks ke Peradaban, Prof. Faisol Tegaskan Makna Profetik Kisah Kenabian Al-Qur’an

HUMANIORA – (20/1/2026) Pidato pengukuhan Guru Besar yang disampaikan Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. M. Faisol, M.Ag., menegaskan kembali posisi strategis kisah kenabian dalam Al-Qur’an sebagai fondasi pembentukan peradaban profetik. Dalam Sidang Terbuka Senat Pengukuhan Guru Besar Bidang Sastra Arab yang digelar di Auditorium Gedung Dr. (HC) Ir. H. Soekarno Lantai V, Prof. Faisol menggarisbawahi bahwa kisah-kisah Al-Qur’an tidak dapat direduksi semata sebagai narasi historis atau pengajaran moral normatif.

Read too:

Dalam naskah pidato ilmiahnya yang berjudul “Naratologi Al-Qur’an: Struktur dan Fungsi Naratif Kisah Kenabian”, Prof. Faisol menjelaskan bahwa kisah para nabi dalam Al-Qur’an merupakan cakrawala peradaban yang sarat makna teologis, sosial, dan kemanusiaan. Menurutnya, Al-Qur’an menggunakan kisah sebagai medium utama untuk membentuk cara pandang umat terhadap tauhid, keadilan, dan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan.

“Dalam konteks Al-Qur’an, kisah kenabian menempati posisi yang lebih mendalam. Ia tidak hanya menghadirkan tokoh dan peristiwa masa lalu, tetapi membangun kesadaran peradaban yang hidup dan relevan lintas zaman,” tegas Prof. Faisol di hadapan sivitas akademika dan undangan.

Ia mencontohkan kisah Nabi Musa ‘alaihis salam sebagai salah satu narasi paling sentral dalam Al-Qur’an. Disebutkan sebanyak 166 kali dalam 34 surat, kisah Nabi Musa tidak disajikan secara kronologis utuh, melainkan dalam fragmen-fragmen naratif yang tersebar dengan penekanan yang berbeda-beda. Pola ini, menurut Prof. Faisol, menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak bertujuan menulis sejarah dalam pengertian modern, melainkan menyampaikan pesan peradaban.

“Kisah Nabi Musa bukan sekadar cerita tentang Fir’aun, mukjizat, atau perjalanan Bani Israil. Ia adalah narasi tentang perlawanan terhadap tirani, pembelaan terhadap kaum tertindas, serta peneguhan nilai tauhid dan keadilan sosial,” paparnya.
Lebih jauh, Prof. Faisol menekankan bahwa pendekatan naratologi memungkinkan pembacaan Al-Qur’an yang lebih komprehensif dan kontekstual. Struktur kisah, pemilihan peristiwa, penokohan, dan dialog dalam Al-Qur’an seluruhnya tunduk pada tujuan hidayah. Melalui kisah, Al-Qur’an tidak hanya menyentuh aspek rasional, tetapi juga membangun kesadaran emosional dan spiritual umat.

Dalam pidatonya, Prof. Faisol juga menegaskan bahwa kisah-kisah Al-Qur’an memiliki fungsi pedagogis dan psikologis yang kuat. Kisah hadir untuk meneguhkan iman, menguatkan mental orang beriman, menumbuhkan optimisme, serta memberikan arah moral bagi masyarakat. Dengan demikian, kisah kenabian menjadi instrumen penting dalam membentuk manusia yang beriman, berkeadilan, dan berkeadaban.

Pidato pengukuhan ini menegaskan kontribusi keilmuan Prof. Faisol dalam pengembangan kajian Sastra Arab, khususnya dalam membaca Al-Qur’an sebagai teks ilahi yang memiliki struktur sastra tinggi dan visi peradaban yang jelas. Gagasan tentang peradaban profetik yang dibangun melalui kisah-kisah kenabian menjadi pesan kunci yang relevan di tengah tantangan kemanusiaan kontemporer, ketika nilai keadilan, pembebasan, dan kemanusiaan kembali diuji.

Melalui pengukuhan ini, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kajian Al-Qur’an yang integratif—menghubungkan teks, sastra, dan realitas sosial—sebagai kontribusi nyata bagi penguatan peradaban Islam yang humanis dan transformatif. [al/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait