HUMANIORA – (17/10/2025) Pembelajaran Bahasa Arab selama ini sering terjebak pada penguasaan bentuk dan hafalan struktur, namun lupa menyentuh proses berpikir yang terjadi di baliknya. Dosen Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Arief Rahman Hakim, M.Pd., mengajak para guru untuk meninjau kembali pendekatan mereka dalam mengajar dengan menekankan pentingnya psikokognitif dalam pembelajaran bahasa, yakni bagaimana otak memproses bahasa dari tahap sadar menuju tahap otomatis.
Read too:
- Teknologi Pembelajaran Bahasa Arab Harus Dimanfaatkan Secara Optimal di Era Digital
- Dosen Humaniora Tekankan Pentingnya Budaya Menulis Ilmiah di Pascasarjana UIN KHAS Jember
Hal itu ia sampaikan dalam Workshop Peningkatan Profesionalisme Guru Bahasa Arab yang digelar di Aula MAN 1 Jember, Rabu (15/10/2025). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Arab se-Kabupaten Jember.

Dalam paparannya, Arief menekankan bahwa pembelajaran bahasa tidak cukup hanya berfokus pada latihan membaca atau penguasaan tata bahasa. Lebih dari itu, guru harus memahami bagaimana otak siswa bekerja saat menerima dan memproduksi bahasa. “Siswa sering kali hanya mengenali bentuk kata, tetapi belum sampai pada pemahaman makna. Padahal, di sinilah peran guru untuk membantu mereka berpindah dari pemrosesan yang masih terkontrol menuju otomatisasi,” ujarnya.
Ia merujuk pada teori The Automatic Information Processing Model yang dikemukakan oleh Stanley LaBerge dan Jay Samuels (1974), bahwa membaca merupakan proses mental yang menggabungkan perhatian (attention) dan otomatisasi (automaticity). Semakin otomatis proses membaca seseorang, semakin efisien pula pemahamannya terhadap teks.
Menurut Arief, otomatisasi dalam berbahasa penting karena dapat menghemat daya perhatian siswa, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam menggunakan Bahasa Arab. “Ketika proses membaca atau berbicara sudah menjadi otomatis, siswa tidak perlu lagi berpikir keras tentang struktur atau arti kata. Mereka bisa fokus langsung pada pemahaman makna. Di sinilah bahasa menjadi hidup dan menyenangkan,” tambahnya.
Lebih jauh, Arief menegaskan bahwa pendekatan psikokognitif dapat diterapkan dalam keempat keterampilan berbahasa: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Misalnya, dengan memberikan latihan mendengar kalimat yang berulang dengan variasi kecil, latihan pola otomatis seperti من هذا؟ هذا طالب menjadi من هذه؟ هذه طالبة untuk berbicara, serta latihan membaca cepat (scanning) dalam mencari kata kunci di teks pendek.
“Guru tidak cukup hanya memberikan latihan, tetapi perlu mendesain pengalaman belajar yang membuat proses sadar berubah menjadi proses intuitif,” tegasnya. Ia mendorong para guru Bahasa Arab untuk membangun pembelajaran yang menstimulasi kerja otak siswa secara alami melalui pengulangan bermakna (meaningful repetition) dan pembelajaran berbasis pemahaman.
Workshop yang dihadiri puluhan guru Bahasa Arab dari berbagai madrasah di Kabupaten Jember ini berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi dan praktik pembelajaran yang dipandu langsung oleh Arief Rahman Hakim. Mereka mengaku mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana memahami cara kerja kognitif siswa dalam belajar bahasa. (unr)





