HUMANIORA – (15/10/2025) Pelaksanaan Humaniora Research Awards 2025 di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa yang terlibat. Kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi penelitian, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran akademik yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, berkolaborasi lintas angkatan, serta memperluas wawasan terhadap isu-isu lingkungan melalui perspektif humaniora.
Read too:
- Bangun Semangat Qur’ani, Mahasiswa Humaniora UIN Malang Sukses di MTQ Jatim
- 15 Mahasiswa Fakultas Humaniora Raih Gold Medal di Ajang Internasional Bandung Choral Festival 2025
Salah satu peserta, Amelia Resti Iffadah, mahasiswi Program Studi Sastra Inggris, mengungkapkan pengalamannya yang penuh makna selama mengikuti ajang tersebut. “Mengikuti Humaniora Research Award 2025 merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Melalui penelitian bertema ecocriticism yang tim saya angkat, saya belajar memahami bagaimana karya sastra dapat dijadikan sebagai ruang refleksi terhadap isu-isu lingkungan. Acara ini juga memberi saya motivasi baru untuk terus meneliti dan menulis dengan hati. Terima kasih kepada Fakultas Humaniora dan seluruh panitia atas kesempatan yang penuh makna ini,” ujarnya.
Bagi Amelia, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam perjalanan akademiknya. Ia melihat bagaimana pendekatan ekokritisisme membuka cara pandang baru terhadap karya sastra tidak hanya sebagai teks estetis, tetapi juga sebagai sarana untuk menggugah kesadaran ekologis. Pengalaman ini membuatnya semakin terdorong untuk melanjutkan riset-riset sejenis di masa mendatang.

Sementara itu, Zaqhlul Ammar, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Fakultas Humaniora dalam menyelenggarakan ajang ini. “Saya sangat terkesan dengan inisiatif Fakultas Humaniora yang menyelenggarakan Humaniora Research Award bagi para mahasiswanya. Ajang ini menjadi ruang yang berharga bagi mahasiswa untuk berkompetisi secara sehat sekaligus menuangkan ide-ide kreatif mereka ke dalam bentuk penelitian ilmiah,” ungkapnya.
Zaqhlul juga menyoroti pentingnya tema ekologi yang diangkat dalam kegiatan ini. Ia menjelaskan bagaimana kegiatan tersebut membantu mahasiswa menyadari berbagai isu lingkungan yang kian mendesak, mulai dari deforestasi, pertambangan ilegal, krisis air bersih, pencemaran udara, peningkatan suhu global, hingga pengikisan lapisan ozon. Melalui pendampingan intensif dari dosen, ia merasakan proses penelitian ini bukan sekadar kompetisi, tetapi benar-benar menjadi ruang belajar yang memperluas wawasan dan membentuk kesadaran kritis mahasiswa terhadap keberlanjutan bumi.
Peserta lainnya, Miftahul Jannah, juga merasakan manfaat besar dari keterlibatannya dalam kegiatan tersebut. “Kegiatan Humaniora Research Award 2025 Fakultas Humaniora memberi saya kesempatan untuk bereksplorasi dalam dunia penelitian serta belajar hal baru bersama kakak tingkat dan dosen pembimbing. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya, semoga Humaniora Research Award terus berlanjut dengan inovasi yang lebih menarik,” ungkapnya.
Miftahul menilai kolaborasi lintas angkatan dalam proses penelitian memberikan pengalaman berharga. Ia dapat belajar langsung dari senior yang lebih berpengalaman, sembari tetap aktif memberikan kontribusi dalam proses analisis dan penulisan. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa riset bukanlah aktivitas yang eksklusif, melainkan proses kolektif yang saling memperkaya.
Melalui berbagai testimoni tersebut, tampak jelas bahwa Humaniora Research Awards 2025 telah berhasil menjadi ajang pembinaan riset yang berdampak luas. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk mengenal dunia penelitian secara lebih mendalam, berani mengangkat isu-isu aktual dengan perspektif keilmuan humaniora, serta menumbuhkan kesadaran ekologis yang kritis. Fakultas Humaniora berharap kegiatan ini terus berlanjut dan berkembang menjadi platform riset mahasiswa yang semakin kuat dan berkelanjutan. (unr)





