Berita

Membingkai Nilai Keagamaan dan Kearifan Lokal Lewat Pengajaran Bahasa

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 119

HUMANIORA-Dalam teori sosiolinguistik dikatakan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari lingkungan budaya tempat asal bahasa. Melalui bahasa budaya itu diperkenalkan, dan dalam bahasa tercermin suatu budaya. Oleh karena itu, dalam setiap pengajaran bahasa selalu ada konstruksi makna dalam wujud manifestasi pengenalan budaya. Hal ini juga bisa terjadi dalam seiap pengajaran bahasa.

Dr. Meinarni Susilowati, salah satu pakar linguistik di jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora, telah mencoba mendedahkan manifestasi pengenalan budaya yang terjadi dalam proses pengajaran bahasa. Menurutnya, pengajaran bahasa dapat dijadikan sebagai proses untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal kepada peserta didik.

“Dalam setiap pengajaran selalu ada proses konstruksi makna. Proses inilah yang harus diisi dengan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal selama melakukan interaksi dengan peserta didik di dalam kelas,” jelasnya.

Studi yang dilakukan Dr. Meinarni Susilowati terhadap kontruksi makna dalam pengajaran bahasa menunjukkan bahwa sebenarnya dalam kasus pengajaran bahasa Inggris telah terjadi proses westernisasi budaya. Selalu ada makna bahasa yang mengacu pada praktik budaya Barat. Di sini, seorang pengajar perlu menfilter westernisasi itu dengan memasukkan nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Menurut Dr. Meinarni, konstruksi makna merupakan suatu proses yang terkait dengan bagaimana individu memahami dan memproduksi makna melalui bahasa. Manusia menjadikan makna sebagai acuan dalam bertindak terhadap sesuatu. Dengan demikian, ada hubungan yang tidak boleh dipisahkan antara bahasa dengan tindakan sosial. Dalam pola interaksi seperti ini, proses westernisasi itu bisa terjadi.

“Westernisiasi itu harus dicegah. Lebih-lebih dalam konteks pengajaran bahasa Inggris di lingkungan PTKI di Indonesia, memasukkan nilai keagamaan dan kearifan lokal menjadi hal yang harus diupayakan,” imbuhnya.

Gagasan besar yang merupakan hasil penelitian tersebut di atas disampaikan oleh Dr. Meinarni Susilowati di tengah para intelektual muslim yang hadir dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke XVIII yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia pada 17-20 September 2018 di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah.[mff]

 

 

Perkuat Identitas Budaya Melalui Program International Student Forum

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 174

Salah satu bentuk kerjasama antara Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan National University of Singapore (NUS) adalah mengadakan kegiatan kolaboratif dalam bentuk kegiatan International Student Exchange. Kali ini empat mahasiswa dari NUS dikirim ke Fakultas Humaniora untuk mengikuti serangkaian kegiatan akademik yang dihelat selama enam hari, mulai 24 – 29 September 2018.

Secara lebih rinci, program International Student Exchange dikemas dalam bentuk yang beragam. Mulai International Student Forum hingga kunjungan budaya. Dalam International Student Forum, beberapa mahasiswa dari NUS, Fakultas Humanora dan beberapa negara yang lain diberi kesempatan untuk memaparkan hasil kajiannya terkait dengan tema “Tantangan Ilmu Humaniora di Era Milenial”.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka penguatan kultur akademik bagi mahasiswa yang sedang studi, khususnya di Fakultas Humaniora dan National University of Singapore (NUS). Di samping itu, melalui kegiatan ini dapat diperkuat jalinan identitas budaya bagi mahasiswa antar negara sehingga dapat melahirkan sikap saling memahami antar budaya (cross culture understanding).

“Indonesia dan Singapora bertemu dalam satu rumpun budaya-bahasa, meskipun tampak ada beberapa perbedaan. Tetapi kita bertemu kali ini untuk memperkuat identitas budaya. Oleh karena itu, kami memilih Fakultas ini sebagai patner kegiatan,” ujar Azhar Ibrahim Alwee yang sedang mendampingi mahasiswa NUS selama di Malang, saat ditemui usai pembukaan kegiatan.[mff]

Humaniora Helat Program International Student Exchange

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 270

Sebagai wujud komitmen untuk membangun kultur akademik yang maju, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan program International Student Exchange. Program ini merupakan bentuk dari kerjasama yang telah dijalankan bertahun-tahun antara Fakultas Humaniora dengan National University of Singapore (NUS). Program ini dihelat di Aula Rumah Singgah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Senin (24/9/2018).

“Kegiatan ini merupakan wujud dari komitmen kami untuk membangun kultur akademik yang dapat mengantarkan mahasiswa mencapai pengetahuan yang luas, khususnya terkait dengan bidang studi yang dikembangkan di Fakultas Humaniora,” ujar Dr. Syafiyah selaku Dekan Fakultas Humaniora dalam malam pembukaan.

Sementara itu, Azhar Ibrahim Alwee yang menjadi dosen pendamping bagi mahasiswa NUS menjelaskan tujuan program ini. “Sangat senang kami bisa berkolaborasi dengan Fakultas Humaniora untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Hal ini sangat membantu dalam membangun kultur akademik mahasiswa kami,” tegasnya saat memberikan kata sambutan.

Empat mahasiswa dikirim secara khusus dari National University of Singapore (NUS) untuk mengikuti program ini. Kegiatan yang didesain dalam payung Program International Student Exchange akan dirinci dalam bentuk aktifitas akademik yang lain, seperti International Student Forum, Kunjungan Budaya, sit in class, dan aktifitas yang lain. Kegiatan ini akan dihelat selama enam hari, sejak 24 – 29 September 2018.[arh]

Tantangan Pendidikan Agama dan Penguatan Karakter di Era Milenial

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 102

 

Era milenial telah membawa pengaruh yang nyata di tengah kehidupan. Wujudnya adalah generasi Milenial lebih suka berlama-lama dan berselancar dalam dunia maya (internet) dengan tanpa batas. Bahkan mereka menjadikannya sebagai sumber rujukan dalam memperoleh informasi dan pengetahuan. Masalahnya adalah sejauh mana seseorang bisa memanfaatkan internet (dunia maya) itu untuk kepentingan yang produktif-positif. Hal itu kembali kepada diri kita masing-masing. Di sinilah dibutuhkan penguatan karakter bagi setiap individu.

Pokok pikiran itu disampaikan oleh Dr. Istiadah saat diundang dalam memberikan Orasi Akademik dalam acara Wisuda Sarjana ke XIX di Sekolah Tinggi Agama Islam Balikpapan pada Sabtu (15/9/2018). Menurutnya, penguatan karakter bagi generasi milenial seperti sekarang ini merupakan suatu keharusan. Jika tidak, mereka akan kehilangan kontrol. Terjebak pada pusaran dunia maya tanpa dapat mengambil manfaat sedikitpun.

Beberapa penelitian tentang perilaku generasi Milenial terhadap media sosial menyebutkan bahwa dunia maya (internet) telah dijadikan sebagai sumber utama dalam memperoleh pengetahuan menggantikan sumber informasi yang berbasis mesin cetak seperti buku. Mereka lebih memilih mengambil jalan singkat untuk memperoleh pengetahuan. Akibatnya, pengetahuan yang didapat pun lebih bersifat tidak mendalam alias sangat simplistis (pengetahuan yang dangkal).

“Dalam konteks ini, pendidikan agama dan karakter sangat dibutuhkan karena tidak bisa digantikan dengan mesin. Pembelajaran harus dilaksanakan secara kreatif, adaptif, dan produktif melalui pengembangan konten yang inovatif,” ungkap Dr. Istiadah yang menjadi dosen jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora.

Mengajarkan agama tidak sebatas penyampaian materi di dalam kelas, tetapi juga harus diupayakan dalam bentuk film kreatif, misalnya, sehingga peserta didik lebih bisa menghayati. Tidak sekedar mendengarkan materi pelajaran yang diceramahkan. Oleh karena itu, pengembangan konten pelajaran melalui internet menjadi cara yang harus diupayakan dan dilakukan. Pengembangan dan penguasaan terhadap media ajar menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pendidik di kelas.

Terdapat beberapa karakter yang harus ditanamkan kepada dan sangat dibutuhkan oleh generasi milenial. Diantaranya, disiplin dan tanggungjawab, kejujuran, kreatif, dan toleransi. Karakter ini sangat diperlukan karena terkait dengan penggunaan media sosial. Mengingat, media sosial sekarang ini cenderung disalah-gunakan menjadi ajang untuk mengumbar ujaran kebencian dan mengarah pada tindakan intoleran.

“Jika generasi ini menggunakan media sosial secara tidak bertanggungjawab dan jujur, maka akan melahirkan sampah-sampah informasi yang tidak mendidik, tetapi semakin merusak perilaku anak bangsa ini,” tegasnya.

Dalam paparannya, Dr. Istiadah juga menyampaikan pentingnya penanaman karakter cinta Allah bagi generasi milenial. Menurutnya, Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini dalam ragam yang berbeda-beda, baik ras, suku, budaya, dan bahasanya. Perbedaan itu tidak harus menjadikan antar sesama untuk saling memaki-maki. Perbedaan itu harus dipahami dan dijalani sebagai harmoni kehidupan. Memahami perbedaan merupakan modal sosial yang dapat mengantarkan kehidupan manusia ke arah kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, di atas semua karakter yang dibutuhkan oleh generasi milenial, maka penanaman karakter cinta Allah menjadi katakter penting yang tidak boleh dilalaikan. [mff]