Berita

PBAK 2018, Humaniora Siap Cetak Calon Pemimpin Ulul Albab-Humanis

Fakultas Humaniora melaksanakan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK). PBAK Fakultas Humaniora tahun ini diikuti oleh 431 mahasiswa baru, terdiri dari 197 dari Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, dan 234 dari Jurusan Sastra Inggris. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari mulai 14 - 16 Agustus 2018. Kegiatan ini dipusatkan di ruang AULA dan Home Theater, dimulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00 WIB.

Dalam pelaksanaannya mahasiswa dibekali beberapa materi utama. Yaitu, pertama  pengenalan tentang kelembagaan fakultas, keorganisasian dan pola pembinaan. Materi kedua adalah pemberian motivasi untuk membentuk karakter yang disiplin dan bertanggungjawab sebagai seorang mahasiswa. Sedangkan materi ketiga adalah pegenalan sistem akademik dan administrasi.

“Tujuan kegiatan ini agar mahasiswa baru bisa mengenal sistem akademik dan administrasi serta fasilitas yang ada di Fakultas Humaniora. Juga agar mahasiswa memiliki karakter disiplin dan bertanggungjawab, mampu menyelesaikan studinya tepat waktu dengan prestasi yang memuaskan,” papar Dekan Fakultas Humaniora, Dr. Syafiyah, MA.

PBAK kali ini mengambil tema “Optimalisasi nilai humanis dalam membentuk karakter ulul albab”. Tema ini diangkat untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang akhir-akhir ini mulai sering diabaikan oleh generasi era milenial.

“Nilai humanisme harus ditanamkan pada mereka. Ini sejalan dengan cita-cita besar kampus ini, mencetak generasi Ulul Albab,” tukas Moh. Zawawi, M.Pd. yang ditunjuk sebagai koordinator pelaksana PBAK Fakultas Humaniora.[arh]

Belajar Dari Tradisi Pendidikan di Negeri Cina

  • Kategori: Berita
  • Dilihat: 72

Ikut berpartisipasi dalam event ilmiah level internasional adalah suatu kebanggaan. Hal itu yang dirasakan oleh Vita Nur Santi, M.Pd. Dosen kelahiran tahun 1983 ini menjadi salah satu perwakilan negara Indonesia dalam program beasiswa Training Course for Development Countries 2018 yang diselenggarakan oleh Northeast Normal University, Changchun, Jilin Province dengan sponsor dari Ministry of Commerce, The People’s Republic of China.

Ratusan calon peserta dari berbagai negara ikut ambil bagian dalam proses seleksi program ini. Namun dari jumlah itu hanya diambil 64 orang. Mereka yang lolos dari berbagai negara, diantaranya Indonesia, Malaysia, Laos, Nepal, Lebanon, Palestina, Albania, Peru, Mauritius, Sudan Selatan, Ethiopia, Antigua & Barbuda, Grenada, Lesotho, Gambia, Sierra Leone Dan Micronesia. Vita Nur Santi, M.Pd. mewakili calon peserta yang lolos dari Indonesia.

“Alhamdulillah, saya bisa mewakili Indonesia dalam event ini. Saya merupakan salah satu dari tiga wakil negara Indonesia. Bisa mewakili dari Fakultas Humaniora. Satu kebanggan tersendiri bagi saya,” paparnya senang.

Selama tiga pekan, sejak tanggal 9 – 29 Juli 2018, Vita Nur Santi, M.Pd. mengikuti serangkaian program kegiatan “Seminar 2018 for Young Educators from Developing Countries and Countries Included in The “Belt and Road” Initiative”.  Kegiatan dikemas dalam bentuk seminar, diskusi dan simposium. Melalui forum ilmiah ini dibahan berbagai topik-topik mutakhir tentang pendidikan, reformasi pendidikan, psikologi pembelajaran dan pengajaran, strukture, skala, manajemen dan investasi dalam sistem pendidikan dengan menghadirkan pakar berskala internasional.

“Banyak ilmu yang saya dapat. Saya mendapat pengetahuan dari para pakar pendidikan di tingkat internasional. Termasuk juga dari pengalaman para pengajar dari berbagai negara, yang ikut dalam kegiatan ini,” jelasnya.

Di luar rangkaian kegiatan seminar, peserta juga diajak untuk mengunjungi beberapa lembaga pendidikan di Cina, mulai level sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kunjungan budaya juga menjadi menu yang tidak bisa dilepaskan dari kegiatan ini.

“Sangat menyenangkan. Kami diajak untuk melihat tradisi dan budaya akademik di beberapa lembaga pendidikan di sana. Termasuk juga wisata budaya tradisional Cina. Banyak hal yang harus diambil pelajaran dari kemajuan mereka,” lanjutnya.[mff]

Teori Konstruktivisme, Bangkitkan Kreativitas Pembelajar Bahasa

  • Kategori: Berita
  • Dilihat: 13

Untuk kesekian kali, unit Laboratorium Kajian Bahasa dan Budaya (LKBB) Fakultas Humaniora menyelenggarakan diskusi rutin. Kali ini, diskusi dilaksanakan  pada Jum’at 10 Agustus 2018 di Ruang BIPA. Topik yang diangkat adalah teori konstruktivisme dalam pengajaran di abad XXI. Narasumber dalam kajian ini adalah Dr. Langgeng Budianto,M. Pd.

Dalam presentasinya, Dr. Langgeng  Budianto, M.Pd. memaparkan pentingnya teori konstruktivisme dalam desain lingkungan pembelajaran berbasis bahasa Inggris untuk Tujuan Khusus (ESP). Teori konstruktivisme  sangat membantu dalam pengajaran ESP dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk memperoleh berbagai keterampilan komunikasi, kecakapan, dan sikap mereka terhadap pekerjaan yang dibutuhkan dalam masyarakat.

“Kalau kita menggunakan teori konstruktivisme di kelas, maka siswa bisa mendapatkan ruang untuk mencari makna. Mereka bisa menghargai ketidakpastian, dan bertanya secara bertanggung jawab” tegas Dr. Langgeng Budianto,M. Pd.

Dalam diskusi ini juga terungkap bahwa teori konstruktivisme menjadi sangat relevan bagi perkembangan siswa di abad XXI. Karena dapat membentuk keterampilan siswa lebih profesional, dan bisa lebih bersaing dengan dunia luar.

“Memasuki era globalisasi, lingkungan dwibahasa berbasis pada kebutuhan untuk mempersiapkan anak didik menjadi kreatif dan inovatif. Teori  konstruktivisme membuka eluang untuk itu,” lanjutnya.[af]

Sastra Inggris Matangkan Kurikulum Melalui Tadarus RPS

  • Kategori: Berita
  • Dilihat: 63

Jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora mengumpulkan dosen-dosennya untuk mereview implementasi kurikulum melalui tadarus Rencana Perkuliahan Semester (RPS). Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari sejak tanggal 13 – 16 Agustus 2018 di Fakultas Humaniora.

Dalam pelaksanaannya, para dosen jurusan Sastra Inggris dibagi kedalam enam kelompok berdasarkan rumpun keilmuan, rumpun ilmu linguistik, ilmu sastra, penelitian, kebudayaan, profesi dan keterampilan bahasa. Pembagian kelompok sesuai dengan bidang keahlian masing-masing dosen.

“Mereka (dosen, red) dibagi sesuai dengan keahlian ilmunya. Dan ini akan dapat mempertajam dalam evaluasi terhadap kurikulum yang sudah diimplementasikan sejak 2015,” jelas Ketua Jurusan Sastra Inggris, Rina Sari, M.Pd., ketika ditemui di kantornya.

Target dari kegiatan ini tidak saja mereview kurikulum Sastra Inggris, tetapi juga mematangkan silabus dan finalisasi Rencana Perkuliahan Semester (RPS).

“Tujuan lain yang ingin kita capai dari kegiatan ini adalah mematangkan silabus. Termasuk juga finalisasi RPS. Keduanya harus dicermati dan dievaluasi secara periodik,” lanjut Miftahul Huda, M.Pd., Sekteraris Jurusan Sastra Inggris.[arh]