Berita

Perkuat Identitas Budaya Melalui Program International Student Forum

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 102

Salah satu bentuk kerjasama antara Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan National University of Singapore (NUS) adalah mengadakan kegiatan kolaboratif dalam bentuk kegiatan International Student Exchange. Kali ini empat mahasiswa dari NUS dikirim ke Fakultas Humaniora untuk mengikuti serangkaian kegiatan akademik yang dihelat selama enam hari, mulai 24 – 29 September 2018.

Secara lebih rinci, program International Student Exchange dikemas dalam bentuk yang beragam. Mulai International Student Forum hingga kunjungan budaya. Dalam International Student Forum, beberapa mahasiswa dari NUS, Fakultas Humanora dan beberapa negara yang lain diberi kesempatan untuk memaparkan hasil kajiannya terkait dengan tema “Tantangan Ilmu Humaniora di Era Milenial”.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka penguatan kultur akademik bagi mahasiswa yang sedang studi, khususnya di Fakultas Humaniora dan National University of Singapore (NUS). Di samping itu, melalui kegiatan ini dapat diperkuat jalinan identitas budaya bagi mahasiswa antar negara sehingga dapat melahirkan sikap saling memahami antar budaya (cross culture understanding).

“Indonesia dan Singapora bertemu dalam satu rumpun budaya-bahasa, meskipun tampak ada beberapa perbedaan. Tetapi kita bertemu kali ini untuk memperkuat identitas budaya. Oleh karena itu, kami memilih Fakultas ini sebagai patner kegiatan,” ujar Azhar Ibrahim Alwee yang sedang mendampingi mahasiswa NUS selama di Malang, saat ditemui usai pembukaan kegiatan.[mff]

Tingkatkan Kemampuan Mahasiswa Melalui Literary Competence

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 27

Bagi sementara orang yang bergelut dalam dunia pendidikan, meningkatkan pengetahuan peserta didik (mahasiswa) bukanlah hal yang mudah dilakukan. Seseorang bisa saja menyodorkan segudang buku bacaan kepada mereka agar membacanya. Namun tidak sedikit mengalami kegagalan. Butuh cara untuk memperluas cakrawala pengetahuan seseorang. Salah satunya adalah melalui Literary Competence. Hal ini terungkap dalam diskusi rutin yang digelar oleh Laboratorium Kajian Bahasa dan Budaya (LKBB) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim pada Jum’at (21/9/2018) di ruang perpustakaan.
Hadir menjadi narasumber dalam diskusi tersebut Muzakki Afifuddin, M.Pd., salah seorang dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora. Dalam paparannya, ia menyatakan bahwa Literary Competence (Kompetensi Sastra) merupakan kemampuan seseorang  untuk menghubungkan  informasi  yang telah didapat dalam pembelajaran formal maupun non formal melalu teks sastra atau non sastra.
“Kompetensi ini bisa dimunculkan dalam pembelajaran keterampilan bahasa apapun dalam bentuk kegiatan yang merespon teks, baik teks yang diucapkan maupun yang ditulis, teks sastra mapun non sastra,” jelas dosen yang sudah melalang buana dalam konferensi internasional ini.
Tidak hanya memperluas cakrawala pengetahuan, Literary Competence juga dapat memantik peningkatan kompetensi peserta didik dalam ranah yang lebih luas. “Kompetensi ini juga sangat mendukung pengembangan kemampuan critical thinking dan creative thinking bagi mahasiswa,” imbuhnya.[mff]

 

Tantangan Pendidikan Agama dan Penguatan Karakter di Era Milenial

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 33

 

Era milenial telah membawa pengaruh yang nyata di tengah kehidupan. Wujudnya adalah generasi Milenial lebih suka berlama-lama dan berselancar dalam dunia maya (internet) dengan tanpa batas. Bahkan mereka menjadikannya sebagai sumber rujukan dalam memperoleh informasi dan pengetahuan. Masalahnya adalah sejauh mana seseorang bisa memanfaatkan internet (dunia maya) itu untuk kepentingan yang produktif-positif. Hal itu kembali kepada diri kita masing-masing. Di sinilah dibutuhkan penguatan karakter bagi setiap individu.

Pokok pikiran itu disampaikan oleh Dr. Istiadah saat diundang dalam memberikan Orasi Akademik dalam acara Wisuda Sarjana ke XIX di Sekolah Tinggi Agama Islam Balikpapan pada Sabtu (15/9/2018). Menurutnya, penguatan karakter bagi generasi milenial seperti sekarang ini merupakan suatu keharusan. Jika tidak, mereka akan kehilangan kontrol. Terjebak pada pusaran dunia maya tanpa dapat mengambil manfaat sedikitpun.

Beberapa penelitian tentang perilaku generasi Milenial terhadap media sosial menyebutkan bahwa dunia maya (internet) telah dijadikan sebagai sumber utama dalam memperoleh pengetahuan menggantikan sumber informasi yang berbasis mesin cetak seperti buku. Mereka lebih memilih mengambil jalan singkat untuk memperoleh pengetahuan. Akibatnya, pengetahuan yang didapat pun lebih bersifat tidak mendalam alias sangat simplistis (pengetahuan yang dangkal).

“Dalam konteks ini, pendidikan agama dan karakter sangat dibutuhkan karena tidak bisa digantikan dengan mesin. Pembelajaran harus dilaksanakan secara kreatif, adaptif, dan produktif melalui pengembangan konten yang inovatif,” ungkap Dr. Istiadah yang menjadi dosen jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora.

Mengajarkan agama tidak sebatas penyampaian materi di dalam kelas, tetapi juga harus diupayakan dalam bentuk film kreatif, misalnya, sehingga peserta didik lebih bisa menghayati. Tidak sekedar mendengarkan materi pelajaran yang diceramahkan. Oleh karena itu, pengembangan konten pelajaran melalui internet menjadi cara yang harus diupayakan dan dilakukan. Pengembangan dan penguasaan terhadap media ajar menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pendidik di kelas.

Terdapat beberapa karakter yang harus ditanamkan kepada dan sangat dibutuhkan oleh generasi milenial. Diantaranya, disiplin dan tanggungjawab, kejujuran, kreatif, dan toleransi. Karakter ini sangat diperlukan karena terkait dengan penggunaan media sosial. Mengingat, media sosial sekarang ini cenderung disalah-gunakan menjadi ajang untuk mengumbar ujaran kebencian dan mengarah pada tindakan intoleran.

“Jika generasi ini menggunakan media sosial secara tidak bertanggungjawab dan jujur, maka akan melahirkan sampah-sampah informasi yang tidak mendidik, tetapi semakin merusak perilaku anak bangsa ini,” tegasnya.

Dalam paparannya, Dr. Istiadah juga menyampaikan pentingnya penanaman karakter cinta Allah bagi generasi milenial. Menurutnya, Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini dalam ragam yang berbeda-beda, baik ras, suku, budaya, dan bahasanya. Perbedaan itu tidak harus menjadikan antar sesama untuk saling memaki-maki. Perbedaan itu harus dipahami dan dijalani sebagai harmoni kehidupan. Memahami perbedaan merupakan modal sosial yang dapat mengantarkan kehidupan manusia ke arah kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, di atas semua karakter yang dibutuhkan oleh generasi milenial, maka penanaman karakter cinta Allah menjadi katakter penting yang tidak boleh dilalaikan. [mff]

 

Kuliah Tamu "Bahasa Arab untuk Diplomasi"

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 230

 

Selasa (04/09). Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) mempersembahkan seminar nasional dengan tema “Al ‘Arobiyyah li al-Diblumasiyyah”. Pemateri dalam helatan ini adalah Abdul Wahid. B. Ed. S.s. M.Pd, seorang alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (dulu STAIN) angkatan 2010 yang saat ini berprofesi sebagai staff khusus duta besar Indonesia di Iraq.
Dalam uraian materinya, seorang yang dulu juga alumnus jurusan BSA ini menjelaskan seputar dunia diplomasi antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Alumnus King Saud University tersebut juga menjalaskan tentang kunci suksesnya kerjasama antar negara yaitu adanya pemahaman bahasa dan budaya antara negara satu dengan yang lain. Jalinan hubungan yang baik antar keduanya juga perlu terus dikuatkan dan terpenting adalah saling menjaga persatuan.
Seorang yang juga pernah menjadi asisten dosen di Program Khusus Pembelajaran Bahasa Arab (PKPBA) UIN Malang ini juga menjelaskan tentang banyaknya keistimewaan dalam memilih jurusan BSA yaitu banyaknya peluang pekerjaan didalamnya seperti menjadi seorang diplomat. 
Pada akhir materinya, pria asli Madura tersebut begitu menggebu-gebu dalam menjelaskan tentang keistimewaan kuliah mengambil jurusan BSA. “Jurusan BSA itu sangat keramat yang berarti istimewa. Saya selalu ingat perkataan guru saya “Tidak akan mati kelaparan, seorang yang ahli, mahir, dan piawai berbahasa Arab.”Tuturnya yang disambut meriah oleh tepuk tangan para hadirin.
Acara yang dikomandoi oleh Nur Qomari M.Pd ini sendiri sangat disambut antusias oleh mahasiswa BSA dari 3 angkatan, yaitu angkatan 2015, 2016 dan 2017. Hal tersebut dibuktikan dengan penuhnya ruang Home Teater sehingga banyak dari mereka yang tidak mendapat tempat duduk hingga banyak yang duduk lesehan di lantai. [hs]