Berita

  • Written by Admin Humaniora
  • Published in Berita
  • Hits: 1046
  • Print ,

HUMANIORA - (2/9/2019) Panggung itu tak luas sebenarnya. Hanya setengah lebar teras Fakultas Humaniora. Dengan menggunakan kain hitam mengotak, panggung itu nyatanya cukup menarik beberapa mahasiswa untuk menonton maupun mengajukan diri dalam acara Pakar. Acara ini masih berusia 2 tahun sejak didirikan. Merupakan acara bebas yang siapa saja boleh menyumbangkan segala karya sastra, seperti membacakan puisi, memainkan drama, maupun perfoma suara.

Penampilan pertama adalah pembacaan puisi oleh Hasan, seorang mahasiswa Fak. Humaniora angkatan 2017. Suaranya yang begitu menghayati setiap kata dalam puisinya, benar-benar memukau penonton. Dia juga menutup puisinya dengan lantunan lagu shalawat yang berjudul "Man Ana?". Selanjutnya, penampilan puisi dari Andika, seorang mahasiswa dari Fak. Tarbiyah. Puisinya yang berjudul "Rindu", meski tak se-memukau Hasan, namun sarat akan makna. Tak hanya puisi, "panggung bebas" tersebut juga menghadirkan beberapa lagu. Lagu pertama berjudul Senorita, ciptaan Shawn Mendes ft Camilla Cabello, yang di nyanyikan oleh Rara (perwakilan mahasiswa Sastra Inggris). Suara merdunya mengalun mesra bersama petikan gitar temannya. Selesai dengan lagu Senorita-nya, Rara menyanyikan lagu Jawa yang berjudul Banyu Langit, ciptaan Didi Kempot.

Penampilan selanjutnya adalah drama monolog. Drama yang berjudul "Bau Kentut" ini ditampilkan oleh Adi. Dia benar-benar piawai sekaligus lihai dalam setiap menampilkan peran-peran yang berbeda. Sesekali, dia menjadi seorang kakek tua pemulung. Lalu, dia berperan menjadi seorang boss pabrik. Kemudian, dia menjadi orang sakti. Kepiawaiannya mampu menyedot perhatian sekitar 20 mahasiswa.

Ketika di tanya perihal inspirasi,mahasiswa yang memakai blangkon tersebut mengungkapkan kalau kentut sama seperti kesalahan. "Setiap manusia pernah kentut. Maka, setiap manusia pernah mengalami kesalahan", ujarnya. Manusia sering tak menyadari kesalahan yang dia perbuat. Malah, mencari dan menuduh kesalahan pada diri orang lain. Sama seperti bau kentut yang tidak pernah mau diakuinya. Dari drama tersebut, lanjutnya, dia menjelaskan bahwa ada nilai kehidupan yang bisa dijadikan nasihat bijak. Nilai kehidupan tersebut adalah perlunya instropeksi diri. Selain itu, tambahnya, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Sering kita lihat, seorang kaya raya benar-benar akan didengar setiap ucapannya. Berbeda dengan orang miskin yang setiap ucapannya dianggap bualan semata. Padahal, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis, yakni "Undzur Ma Qaala, Wa La Tandzur Man Qaala". Hadis ini menegaskan bahwa yang harus kita perhatikan adalah apa yang di katakan, bukan siapa yang mengatakannya. [an]