Berita

  • Written by Admin Humaniora
  • Published in Berita
  • Hits: 43
  • Print ,

HUMANIORA-Dalam teori sosiolinguistik dikatakan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari lingkungan budaya tempat asal bahasa. Melalui bahasa budaya itu diperkenalkan, dan dalam bahasa tercermin suatu budaya. Oleh karena itu, dalam setiap pengajaran bahasa selalu ada konstruksi makna dalam wujud manifestasi pengenalan budaya. Hal ini juga bisa terjadi dalam seiap pengajaran bahasa.

Dr. Meinarni Susilowati, salah satu pakar linguistik di jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora, telah mencoba mendedahkan manifestasi pengenalan budaya yang terjadi dalam proses pengajaran bahasa. Menurutnya, pengajaran bahasa dapat dijadikan sebagai proses untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal kepada peserta didik.

“Dalam setiap pengajaran selalu ada proses konstruksi makna. Proses inilah yang harus diisi dengan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal selama melakukan interaksi dengan peserta didik di dalam kelas,” jelasnya.

Studi yang dilakukan Dr. Meinarni Susilowati terhadap kontruksi makna dalam pengajaran bahasa menunjukkan bahwa sebenarnya dalam kasus pengajaran bahasa Inggris telah terjadi proses westernisasi budaya. Selalu ada makna bahasa yang mengacu pada praktik budaya Barat. Di sini, seorang pengajar perlu menfilter westernisasi itu dengan memasukkan nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Menurut Dr. Meinarni, konstruksi makna merupakan suatu proses yang terkait dengan bagaimana individu memahami dan memproduksi makna melalui bahasa. Manusia menjadikan makna sebagai acuan dalam bertindak terhadap sesuatu. Dengan demikian, ada hubungan yang tidak boleh dipisahkan antara bahasa dengan tindakan sosial. Dalam pola interaksi seperti ini, proses westernisasi itu bisa terjadi.

“Westernisiasi itu harus dicegah. Lebih-lebih dalam konteks pengajaran bahasa Inggris di lingkungan PTKI di Indonesia, memasukkan nilai keagamaan dan kearifan lokal menjadi hal yang harus diupayakan,” imbuhnya.

Gagasan besar yang merupakan hasil penelitian tersebut di atas disampaikan oleh Dr. Meinarni Susilowati di tengah para intelektual muslim yang hadir dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke XVIII yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia pada 17-20 September 2018 di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah.[mff]