Berita

  • Written by Admin Humaniora
  • Published in Berita
  • Hits: 182
  • Print ,

 

Rabu (5/2). Dosen bahasa asing dari Beijing Foreign Student University (BSFU) menjadi pemateri pada kajian diskusi rutin SAC. Dalam diskusi kali ini, pemateri, Hendy Yuniarto, mengulas tentang bagaimana beliau mengajarkan mata kuliah bahasa Jawa dan Indonesia di Universitas yang mempunyai 86 jurusan tentang berbagai bahasa ini. Bukan hanya itu, beliau juga menguak bagaimana cara belajar bahasa Cina yang akhir-akhir ini semakin banyak peminatnya.

             Dosen yang mengajar 2 bahasa yaitu Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia ini menjelaskan bahwa bahasa Jawa di BSFU merupakan mata kuliah pilihan bahasa ke-3 setelah bahasa jurusannya dan bahasa Inggris. Sedangkan, Bahasa Indonesia merupakan suatu jurusan diantara 86 jurusan bahasa yang mana hanya menyediakan pendaftaran mahasiswa 4 tahun sekali. Beliau menguatarakan bahwa alasan 4 tahun sekali merekrut mahasiswa karena beberapa alasan, salah satunya agar menjaga kualitas pengajar dan pelajarnya.

             Khusus Bahasa Jawa, dosen alumni Universitas Gajahmada (UGM) ini menjelaskan pada awalnya beliau memberikan materi tentang fonologi yang dipakai pada bahasa Jawa dan Indonesia. Setelah pemberian ilmu fonologi, beliau menjelaskan tentang bagaimana pemakaian bahasa ngoko dan krama dalam bahasa Jawa. Beliau berkata dalam mengajar bahasa jawa, beliau seperti mengajar siswa Taman Kanak-kanak (TK). “Saya mengajar dari nol, dan mereka juga tidak punya modal sebelumnya. Jadi, saya seperti mengajar anak TK.” Ujar pak Hendy, yang merupakan teman kuliah S2 dosen Sastra Inggris (SI), Agwin Degaf. Oleh karena itu, untuk mempermudah mahasiswa memahami bahasa yang diajarkan, beliau juga memperkenalkan kultur dan adat istiadat yang berada di Indonesia.

             Pak Hendy, selanjutnya, menjelaskan tentang bagaimana bahasa Cina semakin berkembang akhir-akhir ini dalam hal peminatnya. Beliau menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi orang-orang belajar bahasa Cina adalah faktor ekonomi. Seperti apa yang dikatakan beliau, banyak perusahaan  mencari pekerja yang berkemampuan berbahasa Cina. “Sekarang banyak perusahaan yang mencari pekerja yang bisa berbahasa Cina dan itu gajinya juga lumayan besar.” Terang beliau. Namun, bukanlah  perkara mudah untuk menguasai bahasa Cina. Butuh konsistensi dalam belajar dan biayanya juga tidak murah. “Bahasa Cina ini bahasa yang sulit dipelajari, butuh konsistensi dan juga biaya kursusnya juga mahal.” Imbuh dosen yang juga mantan jurnalis ini.

             Acara diskusi yang dihadiri oleh beberapa mahasiswa Cina dari Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan Sastra Inggris (SI) ini, diakhiri dengan pemberian bingkisan dari tim SAC. [bo]